h1

Perubahan

June 8, 2012

Genap sudah 2 tahun saya meninggalkan blog usang ini. Masa terasa seolah-olah begitu pantas berlalu – walaupun hakikatnya begitu banyak coretan hidup yang dilalui sepanjang jarak 730 hari itu. Tarikh hari ini (8/6/12) dan entry terakhir saya sebelum ini (8/6/10) adalah berlatarbelakangkan 2 dunia yang bagi saya hampir segala-galanya berbeza.

Dulu saya masih berstatus bujang; sekarang saya bukan sahaja sudah bergelar suami, malah sudah memegang gelaran bapa. Dulu saya hidup berseorangan; sekarang kehidupan saya bukan sahaja ditemani seorang isteri yang sangat penyayang, malah telah dianugerahkan Allah seorang zuriat yang sentiasa menghiburkan hati.

Dulu lain, sekarang lain. Syukur kepada Allah yang telah merencanakan perubahan kehidupan yang baik buat saya.

h1

Peluru Berdarah

June 8, 2010

PELURU BERDARAH

Lagu: Lanjelang
Lirik: Lanjelang

.
Dentuman di angkasa
Angin melintang hala
Dunia rabak sengsara
Zikir terbit di dada

Senapang tingkah meriam
Darah tidak tertatang
Denai saraf penuh tenggelam
Ayah abang berjuang

Peluru berdarah mengejar nyawa
Darah hilang di urat
Pucat tanah kuburan
Termakan racun tidak mati

Imam di masjid berdoa
Tuhan berilah jalan
Dunia makin sengsara
Wahyu tak kesampaian

Bilal meraung di kubah
Azan sayup terdengar
Masa berganti darah
Sengsara dahaga lapar

Termakan racun tidak mati

h1

‘Pelan Damai’ Yang Membawa Ke Syurga

May 25, 2010

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudara kamu (yang bertelagah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.”
(Al-Hujuraat: 10)

Daripada Anas (r.a.) bahawa Rasulullah (sallallahu alaihi wasallam) bersabda: “Siapa yang ingin agar rezekinya dimurahkan dan umurnya dipanjangkan, maka hendaklah ia menghubungkan silaturrahim.”
(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Daripada Jubair Bin Math’am (r.a.) beliau mendengar Rasulullah (sallallahu alaihi wasallam) bersabda: “Tidak masuk syurga orang yang memutuskan (silaturrahim).”
(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

“(Kalau kamu tidak mematuhi perintah) maka tidakkah kamu harus dibimbang dan dikhuatirkan – jika kamu dapat memegang kuasa – kamu akan melakukan kerosakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan silaturrahim dengan kaum kerabat? (Orang-orang yang melakukan perkara yang tersebut) merekalah yang dilaknat oleh Allah serta ditulikan pendengaran mereka, dan dibutakan penglihatannya.”
(Muhammad: 22-23)

Petikan ayat al-Quran dan hadith di atas sangat tepat menusuk ke hati. Betapa Allah menjanjikan rahmat kepada hamba-hambaNya yang berusaha memperbaiki hubungan sesama manusia. Betapa Allah murka kepada sesiapa yang cuba menyemarakkan api persengketaan antara mereka. Bukankah seorang mukmin terhadap mukmin yang lain telah secara jelas diibaratkan Allah sebagai bersaudara?

Hapuskanlah titik hitam di hati yang sentiasa menghasut mata supaya memandang dengan pandangan hasad dengki, dendam dan buruk sangka. Jika tidak mampu menyahut perintah “maka damaikanlah antara dua saudara kamu (yang bertelagah) itu”, jangan pula kita terlibat sama dalam sengketa yang berlaku; jauh lebih buruk lagi jika turut mengapi-apikan!

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pintu-pintu syurga dibuka pada setiap hari Isnin dan Khamis lalu diampunkan semua hamba yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatupun kecuali seseorang yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan: Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.”
(Hadith riwayat Muslim)

Maka, capailah ‘pelan damai’ yang membawa ke syurga!

.

** Firdaus: Bulan Ramadhan dan Syawal bakal menjelma. Bagi yang membudayakan ‘mohon maaf bermusim’ (seperti juga saya), ini merupakan peluang yang baik untuk menghulurkan salam kemaafan dan melupakan kisah-kisah lama yang membusuk di hati. Mulakanlah lembaran hidup yang baru – kehidupan yang dijanjikan rahmat oleh Allah, kehidupan penuh ukhuwwah!

h1

Hook Up With Allah, Allah Will Hook You Up

April 22, 2010

source: http://faithworksforever.files.wordpress.com/2008/10/allah71.jpg**********

HOOK UP WITH ALLAH, ALLAH WILL HOOK YOU UP

by Maryam Amir-Ebrahimi

(www.suhaibwebb.com)

.

Before I got married, I was given unsolicited advice on how to change in order to make myself “more appealing” to brothers. Sisters would voluntarily tell me I should be more outgoing when with men, dress more attractively to get their attention and stop being as involved with Islamic activism so I would not scare them away.

Since when is our purpose in life marriage? Where in the Qur’an does Allah ask us to change our personalities, dress style and tone down our activism in hopes of getting hitched? Nevertheless, with marriage being such a huge concern in our community, many face the temptation to change their values to find a spouse.

Here’s an idea: Instead of working to please a potential suitor, perhaps we should first seek to please Allah, the One who sows the seed of love in our hearts and can bless us with our dream husband or dream wife.

Instead of looking for marriage at every event, let’s look for marriage in our relationship with al-Wahhab, the Giver of All. Let’s be honest. We are talking about al-Mujeeb, the Responder to Prayer. Those are amongst the Names of Allah! Allah gives and He answers!

If you are an individual who struggles to lower your gaze and protect your eyes, heart, tongue and body from falling into the haram, don’t you know that Allah will indeed reward you?

Every time you glance up and see someone you wish you could be with, turn away and in that moment ask Allah to bless you with a spouse who will be the sweetness of your eyes. Would not Allah listen to and accept your supplication to Him? How could Allah possibly not accept the supplication of His adamant worshipper who is painfully struggling to maintain his or her modesty and guard his or her chastity? The Prophet (peace and blessings be upon him) has encouraged us to “Ask and you will be given…” (at-Tirmithi) Allah will give you! How could He not when you are striving only for His Sake?

In those moments in the last third of the night, in those two rakahs which you make out of pure frustration of your situation, weeping, asking Allah (subhanahu wa ta’ala – exalted is He) to answer you –  do you not think Allah the Rabb al-`alameen (Lord of the Worlds) will not respond to you? Allahu Akbar (God is the Greatest), this is Allah! Without doubt Allah (subhanahu wa ta’ala) is going to answer you!

The Prophet (peace and blessings be upon him) relates from Allah in a hadith Qudsi:

“Our Lord (glorified and exalted be He) descends each night to the earth’s sky when there remains the final third of the night, and He says: ‘Who is saying a prayer to Me that I may answer it? Who is asking something of Me that I may give it him? Who is asking forgiveness of Me that I may forgive him?’” (Bukhari)

What is hooking up with a brother or sister on gchat or facebook worth in comparison to hooking up with the One who can hook you up?

As Shaykh Muhammad Faqih once said, “Hook up with Allah, Allah will hook you up!”

Let’s hook up with salah! Hook up with the Qur’an! Hook up with community work for Allah’s Sake! And have certainty that when we struggle to please Allah (subhanahu wa ta’ala), Ash-Shakoor is the Most Appreciative of our work and will undoubtedly reward us.

Will that reward be in the form of an amazing spouse and an amazing marriage? Allah knows best. But the best part is that Allah knows what is BEST for us and that His bounties are limitless.

The Prophet (peace and blessings be upon him) has told us, “Any Muslim who supplicates to Allah in a du`a’ which contains no sin [of] breaking of kinship, Allah will give him one of three things: either his du`a’ will be immediately answered, it will be saved for him in the hereafter, or it will turn away an equivalent amount of evil (from him)…” (Ahmad).

Thus, we must know that if we connect with Allah, we can trust that Allah will grant us whatever is best, whether it be an answer to exactly what we are asking for or something better. Allah has got our backs! Who better to trust our future with than the One who already knows it?

Easier said than done? Maybe. But what have you got to lose? If at the end of the day you are only increasing in closeness to Allah, increasing in reading the Qur’an, tasting the sweetness of your salah, and making more sincere du`a’ then insha’Allah (if Allah wills) you will have gained more than simply “a spouse” if you get married and you would have gained much more than facebook “cruising for a spouse” time while you’re attempting to find your better half…Insha’Allah you will gain more in this life and the next, and an unwavering relationship with Allah!

Here are some short, quick and amazing ways we can increase our relationship with Allah through good deeds massively rewarded inshaAllah:

–> Get what you really want: “Allah will grant whoever recites this seven times in the morning or evening whatever he desires from this world or the next” (Ibn As Sunni, Abu Dawood – both reports are directly linked to the Prophet (peace and blessings be upon him)):

HasbiaAllahu la ilaha ila huwa `alayhi tawakaltu wa huwa Rabbu’l`arshi’l`atheem.

“Allah is Sufficient for me, none has the right to be worshipped except Him, upon Him I rely and He is Lord of the exalted throne.”

To be recited seven times in the morning (after Fajr) and seven times in the evening (between `Asr and Maghrib).

–> Say “Subhan’Allah” (glory be to Allah) 100 times. For a person who does this, “a thousand good deeds are recorded for him and a thousand bad deeds are wiped away.” [Muslim]

–> Ask Allah to forgive your brothers and sisters: “Whoever seeks forgiveness for believing men and believing woman, Allah will write for him a good deed for each believing man and believing woman.” [at-Tabarani, classed as hasan by al-Albani]

–> Work to protect yourself from the Hellfire: “Allah will spare whoever says this four times in the morning or evening from the fire of Hell” (Abu Dawood, was also reported in Bukhari).

Allahumma inni asbahtu ush-hiduka, wa ushidu hamalata `arshika, wa mala’ikataka, wa jamee`a khalqik, annaka Ant Allah, la ilaha illa Ant, wahdaka la shareeka lak, wa anna Muhammadan `abduka wa rasuluka (when saying this in the evening, say “Allahuma inni amsaytu” instead of “asbahtu.

“O Allah, verily I have reached the morning and call on You, the bearers of Your throne, Your angels, and all of Your creation to witness that You are Allah, none has the right to be worshipped except You, alone, without partner and that Muhammad is Your Servant and Messenger.”

To be recited four times in the morning (after Fajr) and evening (between `Asr and Maghrib).

The Lord of the Worlds speaks to us and tells us, “And when My slaves ask you concerning Me, then I am indeed near. I respond to the invocations of the supplicant when he calls on Me. So let them obey Me and believe in Me, so that they may be led aright” (Quran, 2:186).

You are coming to Allah with rajaa (hope), with a powerful combination of seeking Allah’s pleasure, striving to leave anything which may gain His displeasure and making a consistent effort to ask Him to open the best of ways for you and then putting your trust in Him that He will give you whatever is best. Of course Allah is going to answer you.

As was once stated, “A person has never held certainty in Allah only for Allah to disappoint him/her.’ Never will Allah disappoint those with yaqeen (certainty), tawakkul (reliance) and husn al-dhann (good opinion) of Him.” Hook up with Allah and know that without a doubt, Allah ‘azza wa Jall will hook you up in the best of ways.

h1

Moga Bahagia Sampai Syurga

February 6, 2010

Berterusan menerima berita-berita gembira dari rakan-rakan.

Moga kalian bahagia hingga ke syurga.

h1

Bacalah

December 31, 2009

Mereka yang benar-benar mengenali saya sangat tahu yang saya bukanlah seorang ‘pembaca buku’, jauh sekali untuk digelar ‘ulat buku’. Bagi mengisi masa lapang ataupun melepas tekanan, jarang sekali terlintas di fikiran saya untuk mencapai buku, apatah lagi sekiranya buku tersebut beratus-ratus muka tebalnya seperti novel dan sebagainya (nota: ‘komik’, ‘manga’, ‘majalah’, atau apa-apa bahan bacaan yang berasaskan lukisan atau gambar tidak termasuk dalam kategori ‘buku’ yang saya maksudkan). Untuk mendapatkan ilmu pula, saya lebih cenderung kepada artikel-artikel ringkas yang padat isinya, ataupun menghadiri majlis-majlis ilmu yang mana saya dapat menyerap secara langsung segala ilmu yang disampaikan oleh guru, ustaz atau penceramah yang berada di hadapan.

Saya mudah bosan dengan susunan huruf yang terlalu banyak, kecuali jika tulisan itu benar-benar berkualiti, ilmiah, menarik, dan memang menjadi ‘keperluan’ untuk saya membacanya. ‘Keperluan’ yang saya maksudkan di sini, adalah sebagai contoh: perlunya untuk saya melengkapkan diri dengan ilmu akademik terutamanya dalam bidang kejuruteraan, maka sudah tentu saya akan cuba sedaya upaya untuk membaca serta menguasai buku-buku teks, rujukan, ataupun nota berkaitan bidang yang saya ambil (mudah-mudahan niat saya bukan hanya kerana untuk lulus peperiksaan). Contoh ‘keperluan’ lain adalah keperluan memperbekalkan diri dengan ilmu berkaitan perkahwinan – yang merupakan tumpuan utama saya pada entry kali ini.

Sejak berada di tahun akhir universiti dahulu, saya sedar yang saya sudahpun kini berada di penghujung kitar hidup membujang, lambat-laun akan memasuki alam perkahwinan yang penuh dengan fitnah dan cabaran. Saya sedar bahawa sekiranya hari itu tiba dengan saya masih memandang ringan segala apa yang bakal saya hadapi tanpa melengkapkan diri dengan apa-apa persediaan ilmu, saya mungkin akan ‘tewas’ di dalam arus, lebih buruk lagi membiarkan diri dan keluarga saya dipacu ke arah yang tidak diredhai Tuhan, na’udzubillah. Saya sedar yang saya perlu serius dalam mempersiapkan diri dengan ilmu, saya tidak boleh hanya bergantung pada artikel-artikel berkaitan perkahwinan yang pernah saya baca sebelum itu yang mungkin hanya menyentuh satu sudut @ isu daripada keseluruhan cabang-cabang ilmu berumahtangga. Saya perlu mencari buku-buku yang di dalamnya terangkum secara menyeluruh definisi ‘perkahwinan’ sebagaimana yang dikehendaki Allah; bermula seawal fasa pra-perkahwinan, urusan pernikahan, hinggalah kepada kehidupan setelah berumahtangga.

Terdapat beberapa buku berkaitan perkahwinan yang telah saya jumpa dan baca, baik yang saya cari sendiri ataupun yang disarankan oleh rakan / ustaz. Namun di sini cukuplah untuk saya ‘iklankan’ @ kongsikan 3 buku yang menduduki ‘carta teratas’ dalam senarai pilihan buku-buku ‘kegemaran’ saya. Di dalamnya terkandung ilmu, panduan dan pengajaran yang sangat ilmiah, menarik dan bermanfaat. Disarankan kepada kalian untuk sama-sama berkongsi kebaikan daripadanya, lebih-lebih lagi bagi mereka yang sudahpun mula menjejakkan kaki ke dalam fasa-fasa awal pra-pernikahan.

Selamat mencari dan membaca!

.

**********

.

PANDUAN LENGKAP NIKAH DARI ‘A’ SAMPAI ‘Z’

Judul asal:
Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa

Penulis:
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq

Resensi:
“Ketahuilah, kebahagiaan yang hakiki hanya dapat diraih dengan ketakwaan kepada Allah SWT, dan hanya dapat diwujudkan dengan mengikuti petunjuk Allah SWT dan petunjuk Rasulullah SAW.
Buku dihadapan pembaca ini merupakan buku yang sangat berharga, dan membimbing kita sekalian menuju kebahagiaan rumahtangga yang hakiki. Di dalamnya dijelaskan segala hal yang dapat menghantarkan kepada tujuan tersebut, mulai dari cara memilih calon istri maupun suami, meminang yang islami, syarat pernikahan, walimah (pesta) yang islami, hak-hak suami maupun istri, akhlak dan etika menggauli istri, nasihat-nasihat kepada kedua mempelai dan contoh-contoh keteladanan orang-orang shalih baik pria maupun wanita di dalam mengarungi bahtera rumahtangga.”

(dipetik dari http://toko-muslim.com/buku-panduan-lengkap-nikah-dari-a-sampai-z/)

.

DI JALAN DAKWAH AKU MENIKAH

Penulis:
Ustaz Cahyadi Takariawan

Resensi:
“Buku Ustadz Cahyadi Takariawan yang saya kira paling menarik berkaitan dengan cinta, malah seakan-akan buku AKU TERIMA NIKAHNYA versi Indonesia, ialah buku DI JALAN DAKWAH AKU MENIKAH.
Buku setebal 223 mukasurat ini sangat kaya dengan saranan, pesanan dan panduan berkaitan cinta dan perkahwinan, khususnya di kalangan aktivis dakwah. Bahasanya ringan dan santai, banyak diselang-selikan dengan cerita untuk menyuntik unsur realiti di sisi teori dan ringkasnya, saya jatuh hati dengan keunikan buku ini.
Terima kasih kepada rakan IMAN di Bandung yang telah menghadiahkan saya buku ini.”
(diulas oleh Ustaz Hasrizal di blognya http://saifulislam.com/?p=2122)

.

ADAB AZ-ZIFAF: PANDUAN PERNIKAHAN CARA NABI

Judul asal:
Adab Az-Zifaf Fi As-Sunnah Al-Muthahharah

Penulis:
Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani

Resensi:
“Tulisan dalam kitab ini merupakan sebagian dari petunjuk-petunjuk Islam tadi yang didasarkan pada hadits-hadits shahih yang berasal dari pengajar manusia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengupas seluk-beluk perkawinan.
Dalam permasalahan ini banyak kaum muslimin yang tidak mengindahkan lagi aturan dan petunjuk Islam. Ada yang menyimpang dari Islam laksana orang-orang pada zaman jahiliyah dulu yang disimbolkan dengan kebebasan dalam berpakaian mewah dan berlebihan. Ada juga yang menyimpang ala zaman jahiliyah modern saat masing-masing orang berlomba untuk masuk neraka, yaitu dengan mempersiapkan dana perkawinan yang berlebih-lebihan di luar batas kemampuannya.
Mereka menyimpang dari aturan Islam dalam melaksanakan salah satu amalan Islam yang tata cara sebenarnya telah diatur oleh Islam. Membahas tuntas hadits-hadits yang berkaitan dengan kehidupan suami-istri bagaimana mereka harus mengarungi bahtera keluarga sehingga menjadi keluarga yang islami. Tentu untuk mencapai keluarga yang benar-benar islami diperlukan pelaksanaan secara bertahap, istiqamah, dan berkesinambungan.
Semoga dengan hadirnya buku ini dapat menjadi salah satu upaya memperbaiki masyarakat melalui sendi yang paling dasarnya yaitu keluarga.”

(dipetik dari http://toko-muslim.com/buku-adab-az-zifaf-panduan-pernikahan-cara-nabi/)

.

**********

.

**Firdaus: Saya juga ingin mengingatkan diri saya bahawa persiapan ilmu tidak akan terhenti setakat detik termeterainya lafaz ijab dan qabul. Pengajaran sebenar adalah diperoleh melalui pengalaman mengharungi alam perkahwinan bersama pasangan hidup kelak. Namun kita juga perlu sedar, bahawa tanpa ‘peta’ di genggaman, kita pasti akan sesat. Ilmu bertujuan memandu kita agar perjalanan hidup berumahtangga nanti terarah ke arah-Nya, insyaAllah.

h1

Permudahkanlah

December 28, 2009

.
“Permudahkanlah dan jangan persulitkan.
Gembirakanlah dan jangan menakutkan.”

(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

.

Permudahkan.

Jangan persulitkan.

Islam itu mudah. Segala syariat yang terkandung di dalamnya adalah mudah. Segala urusan kehidupan yang diatur Islam adalah mudah. Segala perkara halal yang ditetapkan oleh Islam adalah mudah.

Kita yang menyebabkan ia kelihatan sulit. Pengaruh adat, sistem, sikap dan mentaliti yang menyebabkan ia kelihatan rumit.

Maka larilah manusia daripada melakukan perkara halal yang kelihatan begitu susah, kepada perkara haram yang kelihatan begitu mudah. Masyarakat mula melihat perkara yang dimurkai Tuhan sebagai alternatif. Umat mula memandang perkara yang ditegah syarak sebagai solusi.

Oleh itu permudahkanlah!

.

** Firdaus: Tidak bermaksud menyeru kepada sikap ‘ambil mudah’. Cuma, bagi perkara-perkara yang memang asalnya mudah di dalam Islam, jangan pula kita jadikan ia rumit dan susah.

h1

Laluan Yang Berbeza

December 17, 2009


Setiap insan laluannya berbeza.

Beruntunglah mereka yang dipermudahkan Allah.
Laluannya singkat, lurus dan lancar.

Tabahlah mereka yang diuji Allah.
Laluannya jauh, berliku dan mencabar.

Namun bersyukurlah kedua-duanya.
Kerana “Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.*


____________________
* “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha” (Al-Baqarah: 286)
h1

Label

December 16, 2009

Sebuah lagi artikel menarik oleh Ustaz Hasrizal untuk dimuhasabahkan.

.

**********

PENGITLAKAN ISTILAH YANG MENGUNDANG FITNAH

Oleh Ustaz Hasrizal Abdul Jamil

.

“Betul ke dia tidak baca al-Fatihah dalam wirid lepas Solat? Itu Wahabi tu!” tegas Abu.

“Imam tu tidak akan sekali-kali meninggalkan Qunut semasa Solat Subuh. Kalau terlupa, digantinya dengan Sujud Sahwi. Astaghfirullah. Itu Bid’ah tu!” ujar Hamdan.

“Ummah Centric? Idea yang menolak kewajipan berjemaah itukah? Itu mesti agen UMNO”, dakwa Ismail.

“Dia tidak setuju dengan idea kita dalam Kursus Bina Diri ini. Dia itu pasti geng Pembangkang!” kata Khir.

“Ada ke dalam masjid pun nak ambil fakta daripada buku Covey. Itu sudah tentu terkena jarum Orientalis!” ulas Salmah selepas kuliah Maghrib di Masjid.

She is a prominent sympathizer towards Palestinians. She must then a Moslem terrorist!” simpul Helen tentang rakannya.

.

Dialog di atas itu merentas zaman. Ia disebut di sana sini. Ada di antaranya yang lebih menonjol di satu-satu masa, menenggelamkan yang lain selepas isunya reda.

Apakah titik persamaan di antara Wahabi, Bid’ah, UMNO, Pembangkang, Orientalis dan Muslim Terrorist?

Kesemuanya adalah THE OTHERS. Terma yang digunakan untuk merujuk kepada apa-apa sahaja idea yang bertentangan dengan arus perdana di dalam kelompok tertentu manusia.The Others itu adalah suatu pengitlakan, membuat anggapan umum atau boleh juga disebut sebagai generalisasi, merujuk kepada terma generalization di dalam Bahasa Inggeris.

Pengitlakan konsep, yang kurang spesifik pada kriteria-kriteria yang dirujuk, selalu dilihat sebagai salah satu teras kepada logik manusia untuk meletakkan sebab musabbab sesuatu. Ia boleh menjadi sesuatu yang positif dan perlu, tetapi lazim juga mencerminkan kedangkalan maklumat atau kejahilan seseorang terhadap pengitlakan yang dibuat. Justeru, penilaian mesti dibuat untuk memastikan apakah ada atau tidak kebenaran di dalam pengitlakan berkenaan.

.

WAHABI VS. BID’AH

Menganggap apa sahaja yang berbeza daripada amalan arus perdana sebagai Wahabi, adalah di antara polemik yang sangat membelenggu lagi mengganggu kehidupan masyarakat umat Islam semasa.

  • Tidak melafazkan niat di permulaan Solat adalah Wahabi.
  • Basmalah di dalam Surah al-Fatihah tidak dibaca secara jahriyyah (bersuara) adalah Wahabi.
  • Meletakkan posisi tangan tinggi sedikit di dada semasa Qiyam di dalam Solat adalah Wahabi.
  • Menggerak-gerakkan jari telunjuk semasa tasyahhud adalah Wahabi.
  • Tidak menyapu muka selepas memberi salam usai bersolat adalah Wahabi.
  • Berwirid sendiri-sendiri selepas solat berjamaah adalah Wahabi.
  • Tidak bersetuju dengan amalan kenduri arwah adalah Wahabi.
  • Tidak membaca Yasin di Khamis malam Jumaat adalah Wahabi.
  • Apatah lagi tidak bertalqin selepas pengebumian jenazah adalah Wahabi.

Apa sahaja yang berbeza daripada amalan kebiasaan yang wujud di dalam Masyarakat, maka secara mudah ia dianggap sebagai Wahabi. Satu pengitlakan yang amat memudaratkan sesiapa yang menjadi mangsanya. Melabelkan seseorang sebagai Wahabi adalah satu cara mudah untuk membunuh perbezaan yang berlaku walaupun hakikatnya ada penjelasan yang lebih murni terhadap perbezaan itu selain melabelkannya sebagai Wahabi.

Perbezaan-perbezaan itu wujud secara muktabar di dalam mazhab-mazhab yang lain. Pendirian Mazhab Hanafi, Maliki atau Hanbali diterima sebagai pendapat yang berada di dalam ruang lingkup Ahli Sunnah wal Jamaah. Tetapi menghapuskan hakikat ini dan melabelkannya secara total sebagai Wahabi, ia adalah suatu jenayah yang merosakkan umat.

Malah istilah Wahabi itu sendiri mempunyai konotasi yang kotor. Istilah Wahabi itu dirujuk kepada pengasas gerakan Muwahhidin pada kurun ke-18 di Semenanjung Tanah Arab, iaitu Muhammad ibn ‘Abd Al-Wahhab ibn Sulaiman ibn Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rashid Al-Tamimi. Nama beliau adalah Muhammad dan kabilah asal usulnya adalah al-Tamimi. Tetapi mengapa gerakannya digelar sebagai Wahabi? Bukan Muhammadi atau Tamimi?

Wahabi itu adalah nisbah kepada nama bapa beliau iaitu Abd al-Wahhaab dan kalimah al-Wahhaab itu sendiri adalah salah satu daripada 99 nama Allah di dalam al-Asmaa’ al-Husna.

Menggelar gelaran Wahabi kepada gerakan beliau, adalah salah daripada banyak sudut. Abd al-Wahhab adalah nama bapanya dan bukan nama beliau. Manakala menyuntikkan konotasi buruk ke dalam kalimah AL-WAHHAB menjadi WAHABI adalah suatu pencemaran kepada al-Asmaa’ al-Husna yang mungkin tidak disedari oleh mereka yang secara liar menggunakannya.

Daripada manakah asal usul terma ini?

Golongan yang sangat komited menggunakannya dalam pendakwaan mereka bertanggungjawab untuk membuat penjelasan.

Itu kisah kelompok yang membuat pengitlakan dengan istilah Wahabi. Apa sahaja yang bertentangan dengan kita adalah Wahabi.

Wahabi adalah The Others!

Ada pun di sana, kelompok yang sering digelar sebagai Wahabi juga tidak terlepas daripada membawa budaya pengitlakan yang sama. Sebahagian daripada golongan yang membawa syiar Tajdid ini beranggapan bahawa apa sahaja yang tidak menepati kefahaman mereka tentang Sunnah, maka ia adalah Bid’ah.

  • Melafazkan niat di permulaan Solat adalah Bid’ah.
  • Basmalah di dalam Surah al-Fatihah dibaca secara jahriyyah (bersuara) adalah Bid’ah.
  • Berwirid secara berjamaah selepas solat berjamaah adalah Bid’ah.
  • Menyapu muka selepas berdoa adalah Bid’ah.
  • Bersalam-salaman sesama jamaah di masjid usai mengerjakan Solat adalah Bid’ah.
  • Membaca Yasin di Khamis malam Jumaat adalah Bid’ah.
  • Bertalqin selepas pengebumian jenazah adalah Bid’ah.
  • Menyertai kumpulan atau hizbiyyah juga adalah Bid’ah.

Apa sahaja yang tidak secara tekstual menepati kefahaman pihak ini terhadap Sunnah maka ia terus dilabelkan sebagai Bid’ah. Sedangkan sebahagian daripada apa yang dianggap Bid’ah itu hakikatnya adalah pendapat-pendapat yang wujud di dalam Mazhab yang muktabar, masih berada di satu wajah daripada wajah-wajah (Wajhun min al-Wujooh) kefahaman yang terbit daripada rujukan al-Quran dan al-Sunnah, tetapi secara mudah dilabel dengan istilah pembunuh bernama Bid’ah.

Setiap Bid’ah adalah sesat.

Setiap yang sesat tempatnya adalah di Neraka.

Tidak dinafikan, ada di antara amalan yang wujud di dalam masyarakat, benar-benar Bid’ah kerana ia adalah sesuatu yang tiada asal usul agama, tiada justifikasi agama, malah menjurus kepada Syirik. Contoh ekstrim seperti Mandi Safar, bersolat di kuburan, atau menyelewengkan ayat al-Quran dalam perubatan yang menggunakan pertolongan Jin, semua ini adalah Bid’ah yang besar dan harus ditentang sebagai kemungkaran.

Tetapi sebahagian daripada amalan yang wujud di dalam masyarakat, tidak semestinya Bid’ah hanya kerana ia tidak menepati satu teks Hadith. Daripada manakah asalnya perbuatan melafazkan niat sebelum mengangkat Takbir Solat? Mengapakah adanya bacaan wirid secara berjamaah selepas Solat? Apakah asal usulnya bacaan Tahlil di dalam majlis keraian masyarakat? Daripada manakah susur galur terjadinya bacaan Talqin selepas pengebumian jenazah? Bagaimanakah pula dengan menjadikan al-Fatihah sebagai doa umum yang dibaca di kebanyakan tempat dan sempena?

Sebahagiannya, berasal usul daripada proses mendidik dan memudahkan golongan bermasalah untuk melaksanakan ibadah.  Melafazkan niat sebagai bantuan kepada golongan musykil seperti masalah was-was, menggunakan al-Fatihah sebagai doa umum pada keterbatasan kemampuan masyarakat menghafal pelbagai doa, wirid berjemaah selepas Solat sebagai satu proses Tarbiyah… kesemua itu memerlukan pendukung Tajdid untuk lebih teliti pada usaha memurnikan amalan masyarakat.

Apatah lagi pada urusan yang menjadi khilaf muktabar seperti Qunut di dalam Solat Subuh. Adalah keterlaluan untuk melabelkannya sebagai Bid’ah.

Apa sahaja yang popular di dalam amalan masyarakat tetapi bersalahan dengan satu wajah tafsiran kita terhadap al-Quran dan Sunnah, maka ia adalah Bid’ah.

Bid’ah adalah The Others.

Akhirnya, kontroversi yang membabitkan istilah Wahabi dan Bid’ah di dalam masyarakat, menjadi fitnah yang sangat memudaratkan umat.

Tajdid mungkin membawa maksud pencerahan dan pemurnian, tetapi apabila pengitlakan istilah berlaku secara liar, ia mengundang kegelapan yang lebih berbahaya daripada sebelumnya. Perbuatan reaktif golongan yang mahu menangkis istilah Bid’ah ini pula bertemu dengan perkataan Wahabi yang digunakan sewenang-wenangnya, sebagai satu character assassination yang berkesan pada mematikan proses dialog dan peningkatan Tsaqafah umat.

Ia bukan lagi isu perbezaan pendapat.

Tetapi persoalan sikap dan mazmumah Akhlaq.

.

PEMBANGKANG (PAS) VS. UMNO

Menganggap apa sahaja pandangan yang tidak selaras dengan keputusan Syura, pimpinan atau pandangan parti sebagai UMNO atau AGEN UMNO, adalah penyakit pengitlakan istilah yang turut menimpa segelintir pendukung gerakan Islam di dalam PAS.

Beberapa tahun yang lalu, al-Ustaz Maszlee Malik pernah melontarkan satu idea yang dikenali sebagai Ummah Centric sebagai solusi cadangan kepada ketaksuban sesetengah orang kepada jemaah mereka. Timbul kemalangan intelektual apabila idea Ummah Centric ini dilabel sebagai idea UMNO dan Ustaz Maszlee sendiri digelar sebagai Agen UMNO.

Di dalam PAS, menyabitkan seseorang sebagai UMNO atau agen UMNO adalah satu bentuk character assassination yang sangat berkesan pada mematikan pengaruhnya. Apa sahaja pandangan yang tidak selaras dengan apa yang berada di dalam arus perdana kelompok ini, akan secara mudah dianggap sebagai jarum-jarum UMNO.

Keadaan ini menutup pintu wacana atau pandangan di luar kotak yang sebahagiannya dilontarkan oleh pihak luar dan dalam, untuk kebaikan PAS itu sendiri. Ia suatu kerugian, dan tindakan yang berkesan pada meramaikan musuh.

Contoh terbaru yang boleh dirujuk adalah pada lontaran pandangan kontroversi Prof. Dr. Abdul Aziz Bari berkenaan dengan isu Kerajaan Perpaduan, serta persepsi semasa masyarakat terhadap PAS. Selama ini, Prof. Dr. Abdul Aziz Bari sering mengambil pendirian yang menjadikannya ‘makhluk asing’ di lingkungan dunia akademiknya, tatkala berpendapat dengan pendapat yang berpihak kepada PAS. Pandangan perundangan beliau tentang isu peralihan kuasa pemerintahan di Negeri Perak sangat banyak memberikan nilai penting kepada PAS.

Tetapi apabila pandangan beliau tidak selari dengan apa yang dijangkakan oleh PAS, maka dengan mudah Prof. Dr. Abdul Aziz Bari dilabel sebagai UMNO.

Apa sahaja yang bertentangan dengan PAS adalah UMNO.

UMNO adalah The Others.

Pandangan yang terbit daripada sikap yang sama turut ditemui di dalam lingkungan pendukung UMNO.

Sekiranya ada pandangan yang tidak selaras dengan kehendak kepimpinan tertinggi dan parti, maka dengan mudah ia dianggap sebagai idea pembangkang.

Di peringkat bawahan, para mahasiswa dan mahasiswi sering berdepan dengan belenggu ini. Mereka harus berbeza pandangan daripada idea-idea yang lebih popular di kalangan kelompok pelajar yang pro-pembangkang. Jika selama ini pelajar yang pro-pembangkang bekerja keras berusaha menentang maksiat yang berlaku di dalam kampus maka pelajar yang pro-UMNO sukar untuk melontarkan persetujuannya terhadap apa yang dilakukan oleh pelajar pro-pembangkang tentang maksiat yang bertentangan dengan Islam itu kerana khuatir dilabel sebagai Agen Pembangkang.

Manakala di peringkat atasan pula, kita sama-sama dapat melihat bagaimana kontroversinya tahun 2008 apabila pandangan Datuk Mohd. Zaid Ibrahim terhadap penahanan Ahli Parlimen Teresa Kok, blogger Raja Petra Kamaruddin dan wartawan Tan Hoon Cheng di bawah peruntukan ISA. Bantahan beliau terhadap tindakan itu telah menyebabkan Datuk Zaid Ibrahim diposisikan sebagai ahli UMNO yang berpihak kepada pembangkang, walaupun ketika itu beliau tidak mempunyai sebarang hubungan yang kelihatan dengan PKR atau Pakatan Rakyat.

Sesiapa sahaja yang mengkritik kepimpinan UMNO atau pandangan arus perdana parti itu, maka ia dianggap sebagai Pembangkang atau PAS.

PAS dan Pembangkang adalah The Others.

Sikap ini membekukan perkembangan kedua belah pihak apabila PAS dan Pakatan Rakyat serta UMNO mengambil pendirian yang merugikan mereka. Namun kerugian terbesar bukanlah setakat di peringkat politik, malah ia ditanggung secara langsung oleh rakyat, pihak yang sebenar-benarnya menjadi mangsa kepada pemikiran seperti ini.

.

ORIENTALIS VS. PENGGANAS MUSLIM

Di pentas-pentas ceramah, kuliah Maghrib dan Subuh, perkataan Orientalis sering diulang-ulang oleh para ustaz dan pendakwah sebagai pihak yang mewakili apa sahaja pendapat yang bertentangan dengan Islam.

Orientalis disudutkan sebagai satu fahaman yang mewakili idea-idea yang tidak menepati arus perdana masyarakat. Jika tadi, ada kelompok yang saling berbalah antara Wahabi dan Bid’ah, kini kedua-duanya boleh bersepakat pada menghentam dan menyalahkan Orientalis, setiap kali munculnya pandangan yang ‘berbau Barat’.

Apabila Khairuddin al-Tunisi memberi saranan agar Sultan Abdul Hamid II mengkaji dan mengambil iktibar daripada sejarah kehidupan Charlemagne di Eropah, pandangan Khairuddin al-Tunisi itu dianggap sebagai pandangan Orientalis Barat yang memudaratkan Islam. Sedangkan apabila Khairuddin al-Tunisi memberikan saranan sedemikian rupa, beliau mahukan Sultan Abdul Hamid II dan kabinetnya menyuntik unsur dinamik kepada Pan Islamisma agar Islam sebagai ideologi Politik tidak kabur dengan konsep-konsep yang tidak diperincikan seperti konsep Syura.

Di negara kita juga, pada era 90′an, istilah Triple IT yang merujuk kepada International Institute of Islamic Thought (IIIT) sering diguna pakai untuk merujuk kepada idea-idea yang berbeza daripada pandangan konservatif Islam. Triple IT juga disebut sebagai Islam Amerika, khusus untuk menangkis idea-idea ‘pembaharuan’ yang dibawa oleh musuh besar pembangkang di era itu iaitu Timbalan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim.

Mengistilahkan apa sahaja yang asal usulnya daripada Barat sebagai Triple-IT, atau Orientalis adalah satu bentuk pengitlakan istilah yang merugikan umat ketika mana banyak kebaikan boleh dimanfaatkan daripada kerja-kerja kelompok Orientalis itu.

Di dalam buku Orientalism tulisan Maryam Jamilah, beliau secara tegas menyatakan bahawa tidak semua Orientalis atau Orientalisma itu negatif. Katanya:

Is Orientalism then totally evil? The answer is a qualified no. A few outstanding Western scholars have devoted their lives to Islamic studies because of their sincere interests in them. Were it not for their industry, much valuable knowledge found in ancient Islamic manuscripts would have been lost or lying forgotten in obscurity. English Orientalists like the late Reynold Nicholson and the late Arthur Arberry accomplished notable work in field of translating classics of Islamic literature and making them available to the general reader for the first time in a European language.

Maryam Jamilah mengiktiraf sumbangan sekumpulan Orientalis seperti Reynold Nicholson dan Arthur Arberry yang sememangnya tidak terbabit di dalam agenda kolonialisasi Imperialisma Barat.

Tetapi sayangnya, buku Orientalism karangan Maryam Jamilah itu sendiri, tidak banyak berhasil pada menunjukkan sisi positif Orientalisma sebagaimana yang dinyatakan oleh penulisnya, justeru apa yang ketara hanyalah penolakan agresif yang sedikit sebanyak merugikan umat.

Orientalis dan Barat adalah The Others.

Ada pun di pihak negara Barat sendiri, sikap yang sama tidak terkecuali.

Tanggapan bahawa mana-mana pendapat yang bertentangan dengan polisi luar Amerika Syarikat atau Akta Anti Keganasan, sebagai pengganas Muslim, adalah kebiasaan yang sering mencetuskan kekacauan.

Kita tidak lupa kepada Cherie Booth, isteri kepada bekas Perdana Menteri Britain. Pada tahun 2002, sejurus selepas kejadian letupan yang berlaku di Jerusalem membabitkan kematian 19 orang di Palestin yang berpunca daripada Pengebom Berani Mati Palestin, beliau berkata, “as long as young people feel they have no hope but to blow themselves up, we’re never going to make progress, are we?”

Pandangan tersebut telah mencetuskan kemarahan yang luar biasa di kalangan negara Barat hingga memaksa Cherie Booth meminta maaf kepada orang ramai. Tony Blair sendiri mengalami kemerosotan reputasi akibat kenyataan yang dibuat oleh isterinya itu.

Demikian juga pendirian Ken Livingston, Datuk Bandar Kota London yang banyak berpihak kepada Palestin dan Muslim, telah memposisikan beliau sebagai seorang yang ‘disyaki’ di bawah suluhan lampu pemikiran The Others masyarakat Barat.

Muslim atau Muslim Terrorist adalah The Others!

Sikap yang seperti ini menyuburkan Islamophobia di dalam masyarakat Barat malah mencetuskan paranoid yang keterlaluan. Pandangan yang prejudis terhadap sesiapa sahaja yang berbeza daripada kita, menimbulkan banyak ketidakstabilan sosial di dalam masyarakat dan mencetuskan fitnah yang sukar untuk dipadam.

Kepada umat Islam, cukuplah peringatan Allah berikut menjadi panduan:

49_6

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kamu seorang Fasiq membawa sebuah berita yang penting, maka periksa dan telitilah dahulu mengenainya, supaya jangan nanti kamu menghukum sesuatu kaum dalam keadaan yang jahil sehingga nantinya akan menjadikan kamu sesal (akan ketelanjuranmu itu)” [al-Hujuraat 49: 6]

.

PENGURUSAN NAS

Manakala kepada agamawan yang sedang ghairah berdebat di khalayak, renungkanlah ‘ibrah yang boleh diambil daripada peristiwa yang berlaku, ketika mana Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam mengajar kepada Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, hadith “barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dengan penuh keyakinan, nescaya dia akan masuk ke Syurga.”

Mendengar akan hadith ini, Abu Hurairah bergegas menuju ke pasar untuk menghebahkan kenyataan Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam ini. Akan tetapi di pertengahan jalan, beliau bertemu dengan ‘Umar al-Khattab radhiyallaahu ‘anhu yang menahan perjalanan Abu Hurairah kerana mengetahui akan tujuannya. ‘Umar membawa Abu Hurairah kembali kepada Nabi sallallaahu ‘alayhi wa sallam dan beliau bertanya kepada Baginda, “apakah engkau yang mengutuskan Abu Hurairah membawa kedua alas kaki – sebagai bukti bahawa engkau yang berkata – barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah dengan penuh keyakinan, maka sampaikan kepadanya berita gembira tentang Syurga – ?”

Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam berkata, “ya.”

‘Umar al-Khattab  berkata, “janganlah lakukan ia (wahai Rasulullah), aku khuatir orang akan hanya bergantung kepada ucapan itu. Biarkanlah mereka terus beramal.”

Lalu Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “kalau begitu, biarkan sahaja mereka beramal” [Hadith riwayat al-Bukhari dan Muslim]

Besar sungguh hikmah di sebalik peristiwa ini. Keterbukaan Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam menerima pandangan ‘Umar agar momentum bekerja dan beramalnya masyarakat tidak dipertaruhkan dengan satu khabar gembira yang boleh disalah tafsirkan, menjadi suatu peringatan kepada kita semua tentang kaedah pengurusan penyampaian Hadith dan pembetulan terhadap amal di dalam masyarakat.

Jangan sampai keghairahan terhadap nas, menjadikan kita tidak peduli terhadap keretakan dan kemusnahan yang sedang meruncing di tengah masyarakat.

Berhaluslah dalam tindakan!

Banyak isu yang menghangat serta membingungkan masyarakat hari ini, bukanlah isu perbezaan usul yang tulen. Sebaliknya ia lebih berpunca daripada mazmumah sikap yang gagal mengangkat kepentingan Ummah sebagai keutamaan yang diamanahkan Allah kepada Khalifah-Nya.

Semoga kita kembali bertaqwa kepada Allah.

.

ABU SAIF @ http://www.saifulislam.com
68000 AMPANG

h1

Complain To God

October 27, 2009

Beautiful words taken from a blog – for us to contemplate.

.

**********

A Precious Gem:
THE COMPLAINT OF THE IGNORANT

By Ibn Al-Qayyim, taken from the English translation of the book Al-Fuwaid, page 134

.

The ignorant people complain to people about Allaah, and this is the highest degree of ignorance, for if he had known his Lord, he would not have complained about Him, and if he had known the people he would not have complained to them.

One of the predecessors saw a man complaining to another man about his poverty and dire necessity. He said to him, ‘O you! By Allaah, you have done nothing but complain about He who has mercy for you, to the one who has no mercy for you’.

The following verses have been mentioned about the meaning of the previous statement of the predecessor.

When you complain to a son of Adam

verily you complain about the Most Merciful

to the one who does not pity.

On the contrary, the person who is profoundly knowledgeable about Allaah complains to Allaah alone. And the most knowledgeable person about Allaah is the one who complains about himself to Allaah, and never to people. He complains about the causes that make people do wrong to him, for he knows about the following Qur’anic verses,

‘And whatever of misfortune befalls you it is because of what your hands have earned. And He pardons much.’
(Ash-Shura, 42: 30)

‘Whatever of good reaches you, is from Allaah but whatever of evil befalls you, is from yourself.’
(An-Nisa, 4: 79)

‘(What is the matter with you?). When a single disaster smites you, although you smote (your enemies) with one twice as great, you say: ‘From where does this come to us?’ Say (to them), ‘It is from yourselves (because of your evil deeds).‘ And Allaah has power over all things.’
(Al-Imran, 3: 165)

Therefore, there are three levels: the lowest one is to complain about Allaah to his creatures, the highest one is to complain about yourself to Him and the middle one is to complain about His creatures to Him. May Allaah make us from those who complain to Him alone about ourselves, He the Majestic and Most High, Ameen.