h1

Perubahan

June 8, 2012

Genap sudah 2 tahun saya meninggalkan blog usang ini. Masa terasa seolah-olah begitu pantas berlalu – walaupun hakikatnya begitu banyak coretan hidup yang dilalui sepanjang jarak 730 hari itu. Tarikh hari ini (8/6/12) dan entry terakhir saya sebelum ini (8/6/10) adalah berlatarbelakangkan 2 dunia yang bagi saya hampir segala-galanya berbeza.

Dulu saya masih berstatus bujang; sekarang saya bukan sahaja sudah bergelar suami, malah sudah memegang gelaran bapa. Dulu saya hidup berseorangan; sekarang kehidupan saya bukan sahaja ditemani seorang isteri yang sangat penyayang, malah telah dianugerahkan Allah seorang zuriat yang sentiasa menghiburkan hati.

Dulu lain, sekarang lain. Syukur kepada Allah yang telah merencanakan perubahan kehidupan yang baik buat saya.

h1

Peluru Berdarah

June 8, 2010

PELURU BERDARAH

Lagu: Lanjelang
Lirik: Lanjelang

.
Dentuman di angkasa
Angin melintang hala
Dunia rabak sengsara
Zikir terbit di dada

Senapang tingkah meriam
Darah tidak tertatang
Denai saraf penuh tenggelam
Ayah abang berjuang

Peluru berdarah mengejar nyawa
Darah hilang di urat
Pucat tanah kuburan
Termakan racun tidak mati

Imam di masjid berdoa
Tuhan berilah jalan
Dunia makin sengsara
Wahyu tak kesampaian

Bilal meraung di kubah
Azan sayup terdengar
Masa berganti darah
Sengsara dahaga lapar

Termakan racun tidak mati

h1

‘Pelan Damai’ Yang Membawa Ke Syurga

May 25, 2010

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudara kamu (yang bertelagah) itu; dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat.”
(Al-Hujuraat: 10)

Daripada Anas (r.a.) bahawa Rasulullah (sallallahu alaihi wasallam) bersabda: “Siapa yang ingin agar rezekinya dimurahkan dan umurnya dipanjangkan, maka hendaklah ia menghubungkan silaturrahim.”
(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

Daripada Jubair Bin Math’am (r.a.) beliau mendengar Rasulullah (sallallahu alaihi wasallam) bersabda: “Tidak masuk syurga orang yang memutuskan (silaturrahim).”
(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

“(Kalau kamu tidak mematuhi perintah) maka tidakkah kamu harus dibimbang dan dikhuatirkan – jika kamu dapat memegang kuasa – kamu akan melakukan kerosakan di muka bumi, dan memutuskan hubungan silaturrahim dengan kaum kerabat? (Orang-orang yang melakukan perkara yang tersebut) merekalah yang dilaknat oleh Allah serta ditulikan pendengaran mereka, dan dibutakan penglihatannya.”
(Muhammad: 22-23)

Petikan ayat al-Quran dan hadith di atas sangat tepat menusuk ke hati. Betapa Allah menjanjikan rahmat kepada hamba-hambaNya yang berusaha memperbaiki hubungan sesama manusia. Betapa Allah murka kepada sesiapa yang cuba menyemarakkan api persengketaan antara mereka. Bukankah seorang mukmin terhadap mukmin yang lain telah secara jelas diibaratkan Allah sebagai bersaudara?

Hapuskanlah titik hitam di hati yang sentiasa menghasut mata supaya memandang dengan pandangan hasad dengki, dendam dan buruk sangka. Jika tidak mampu menyahut perintah “maka damaikanlah antara dua saudara kamu (yang bertelagah) itu”, jangan pula kita terlibat sama dalam sengketa yang berlaku; jauh lebih buruk lagi jika turut mengapi-apikan!

Diriwayatkan daripada Abu Hurairah bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Pintu-pintu syurga dibuka pada setiap hari Isnin dan Khamis lalu diampunkan semua hamba yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatupun kecuali seseorang yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan: Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.”
(Hadith riwayat Muslim)

Maka, capailah ‘pelan damai’ yang membawa ke syurga!

.

** Firdaus: Bulan Ramadhan dan Syawal bakal menjelma. Bagi yang membudayakan ‘mohon maaf bermusim’ (seperti juga saya), ini merupakan peluang yang baik untuk menghulurkan salam kemaafan dan melupakan kisah-kisah lama yang membusuk di hati. Mulakanlah lembaran hidup yang baru – kehidupan yang dijanjikan rahmat oleh Allah, kehidupan penuh ukhuwwah!

h1

Hook Up With Allah, Allah Will Hook You Up

April 22, 2010

source: http://faithworksforever.files.wordpress.com/2008/10/allah71.jpg**********

HOOK UP WITH ALLAH, ALLAH WILL HOOK YOU UP

by Maryam Amir-Ebrahimi

(www.suhaibwebb.com)

.

Before I got married, I was given unsolicited advice on how to change in order to make myself “more appealing” to brothers. Sisters would voluntarily tell me I should be more outgoing when with men, dress more attractively to get their attention and stop being as involved with Islamic activism so I would not scare them away.

Since when is our purpose in life marriage? Where in the Qur’an does Allah ask us to change our personalities, dress style and tone down our activism in hopes of getting hitched? Nevertheless, with marriage being such a huge concern in our community, many face the temptation to change their values to find a spouse.

Here’s an idea: Instead of working to please a potential suitor, perhaps we should first seek to please Allah, the One who sows the seed of love in our hearts and can bless us with our dream husband or dream wife.

Instead of looking for marriage at every event, let’s look for marriage in our relationship with al-Wahhab, the Giver of All. Let’s be honest. We are talking about al-Mujeeb, the Responder to Prayer. Those are amongst the Names of Allah! Allah gives and He answers!

If you are an individual who struggles to lower your gaze and protect your eyes, heart, tongue and body from falling into the haram, don’t you know that Allah will indeed reward you?

Every time you glance up and see someone you wish you could be with, turn away and in that moment ask Allah to bless you with a spouse who will be the sweetness of your eyes. Would not Allah listen to and accept your supplication to Him? How could Allah possibly not accept the supplication of His adamant worshipper who is painfully struggling to maintain his or her modesty and guard his or her chastity? The Prophet (peace and blessings be upon him) has encouraged us to “Ask and you will be given…” (at-Tirmithi) Allah will give you! How could He not when you are striving only for His Sake?

In those moments in the last third of the night, in those two rakahs which you make out of pure frustration of your situation, weeping, asking Allah (subhanahu wa ta’ala – exalted is He) to answer you –  do you not think Allah the Rabb al-`alameen (Lord of the Worlds) will not respond to you? Allahu Akbar (God is the Greatest), this is Allah! Without doubt Allah (subhanahu wa ta’ala) is going to answer you!

The Prophet (peace and blessings be upon him) relates from Allah in a hadith Qudsi:

“Our Lord (glorified and exalted be He) descends each night to the earth’s sky when there remains the final third of the night, and He says: ‘Who is saying a prayer to Me that I may answer it? Who is asking something of Me that I may give it him? Who is asking forgiveness of Me that I may forgive him?’” (Bukhari)

What is hooking up with a brother or sister on gchat or facebook worth in comparison to hooking up with the One who can hook you up?

As Shaykh Muhammad Faqih once said, “Hook up with Allah, Allah will hook you up!”

Let’s hook up with salah! Hook up with the Qur’an! Hook up with community work for Allah’s Sake! And have certainty that when we struggle to please Allah (subhanahu wa ta’ala), Ash-Shakoor is the Most Appreciative of our work and will undoubtedly reward us.

Will that reward be in the form of an amazing spouse and an amazing marriage? Allah knows best. But the best part is that Allah knows what is BEST for us and that His bounties are limitless.

The Prophet (peace and blessings be upon him) has told us, “Any Muslim who supplicates to Allah in a du`a’ which contains no sin [of] breaking of kinship, Allah will give him one of three things: either his du`a’ will be immediately answered, it will be saved for him in the hereafter, or it will turn away an equivalent amount of evil (from him)…” (Ahmad).

Thus, we must know that if we connect with Allah, we can trust that Allah will grant us whatever is best, whether it be an answer to exactly what we are asking for or something better. Allah has got our backs! Who better to trust our future with than the One who already knows it?

Easier said than done? Maybe. But what have you got to lose? If at the end of the day you are only increasing in closeness to Allah, increasing in reading the Qur’an, tasting the sweetness of your salah, and making more sincere du`a’ then insha’Allah (if Allah wills) you will have gained more than simply “a spouse” if you get married and you would have gained much more than facebook “cruising for a spouse” time while you’re attempting to find your better half…Insha’Allah you will gain more in this life and the next, and an unwavering relationship with Allah!

Here are some short, quick and amazing ways we can increase our relationship with Allah through good deeds massively rewarded inshaAllah:

–> Get what you really want: “Allah will grant whoever recites this seven times in the morning or evening whatever he desires from this world or the next” (Ibn As Sunni, Abu Dawood – both reports are directly linked to the Prophet (peace and blessings be upon him)):

HasbiaAllahu la ilaha ila huwa `alayhi tawakaltu wa huwa Rabbu’l`arshi’l`atheem.

“Allah is Sufficient for me, none has the right to be worshipped except Him, upon Him I rely and He is Lord of the exalted throne.”

To be recited seven times in the morning (after Fajr) and seven times in the evening (between `Asr and Maghrib).

–> Say “Subhan’Allah” (glory be to Allah) 100 times. For a person who does this, “a thousand good deeds are recorded for him and a thousand bad deeds are wiped away.” [Muslim]

–> Ask Allah to forgive your brothers and sisters: “Whoever seeks forgiveness for believing men and believing woman, Allah will write for him a good deed for each believing man and believing woman.” [at-Tabarani, classed as hasan by al-Albani]

–> Work to protect yourself from the Hellfire: “Allah will spare whoever says this four times in the morning or evening from the fire of Hell” (Abu Dawood, was also reported in Bukhari).

Allahumma inni asbahtu ush-hiduka, wa ushidu hamalata `arshika, wa mala’ikataka, wa jamee`a khalqik, annaka Ant Allah, la ilaha illa Ant, wahdaka la shareeka lak, wa anna Muhammadan `abduka wa rasuluka (when saying this in the evening, say “Allahuma inni amsaytu” instead of “asbahtu.

“O Allah, verily I have reached the morning and call on You, the bearers of Your throne, Your angels, and all of Your creation to witness that You are Allah, none has the right to be worshipped except You, alone, without partner and that Muhammad is Your Servant and Messenger.”

To be recited four times in the morning (after Fajr) and evening (between `Asr and Maghrib).

The Lord of the Worlds speaks to us and tells us, “And when My slaves ask you concerning Me, then I am indeed near. I respond to the invocations of the supplicant when he calls on Me. So let them obey Me and believe in Me, so that they may be led aright” (Quran, 2:186).

You are coming to Allah with rajaa (hope), with a powerful combination of seeking Allah’s pleasure, striving to leave anything which may gain His displeasure and making a consistent effort to ask Him to open the best of ways for you and then putting your trust in Him that He will give you whatever is best. Of course Allah is going to answer you.

As was once stated, “A person has never held certainty in Allah only for Allah to disappoint him/her.’ Never will Allah disappoint those with yaqeen (certainty), tawakkul (reliance) and husn al-dhann (good opinion) of Him.” Hook up with Allah and know that without a doubt, Allah ‘azza wa Jall will hook you up in the best of ways.

h1

Moga Bahagia Sampai Syurga

February 6, 2010

Berterusan menerima berita-berita gembira dari rakan-rakan.

Moga kalian bahagia hingga ke syurga.

h1

Bacalah

December 31, 2009

Mereka yang benar-benar mengenali saya sangat tahu yang saya bukanlah seorang ‘pembaca buku’, jauh sekali untuk digelar ‘ulat buku’. Bagi mengisi masa lapang ataupun melepas tekanan, jarang sekali terlintas di fikiran saya untuk mencapai buku, apatah lagi sekiranya buku tersebut beratus-ratus muka tebalnya seperti novel dan sebagainya (nota: ‘komik’, ‘manga’, ‘majalah’, atau apa-apa bahan bacaan yang berasaskan lukisan atau gambar tidak termasuk dalam kategori ‘buku’ yang saya maksudkan). Untuk mendapatkan ilmu pula, saya lebih cenderung kepada artikel-artikel ringkas yang padat isinya, ataupun menghadiri majlis-majlis ilmu yang mana saya dapat menyerap secara langsung segala ilmu yang disampaikan oleh guru, ustaz atau penceramah yang berada di hadapan.

Saya mudah bosan dengan susunan huruf yang terlalu banyak, kecuali jika tulisan itu benar-benar berkualiti, ilmiah, menarik, dan memang menjadi ‘keperluan’ untuk saya membacanya. ‘Keperluan’ yang saya maksudkan di sini, adalah sebagai contoh: perlunya untuk saya melengkapkan diri dengan ilmu akademik terutamanya dalam bidang kejuruteraan, maka sudah tentu saya akan cuba sedaya upaya untuk membaca serta menguasai buku-buku teks, rujukan, ataupun nota berkaitan bidang yang saya ambil (mudah-mudahan niat saya bukan hanya kerana untuk lulus peperiksaan). Contoh ‘keperluan’ lain adalah keperluan memperbekalkan diri dengan ilmu berkaitan perkahwinan – yang merupakan tumpuan utama saya pada entry kali ini.

Sejak berada di tahun akhir universiti dahulu, saya sedar yang saya sudahpun kini berada di penghujung kitar hidup membujang, lambat-laun akan memasuki alam perkahwinan yang penuh dengan fitnah dan cabaran. Saya sedar bahawa sekiranya hari itu tiba dengan saya masih memandang ringan segala apa yang bakal saya hadapi tanpa melengkapkan diri dengan apa-apa persediaan ilmu, saya mungkin akan ‘tewas’ di dalam arus, lebih buruk lagi membiarkan diri dan keluarga saya dipacu ke arah yang tidak diredhai Tuhan, na’udzubillah. Saya sedar yang saya perlu serius dalam mempersiapkan diri dengan ilmu, saya tidak boleh hanya bergantung pada artikel-artikel berkaitan perkahwinan yang pernah saya baca sebelum itu yang mungkin hanya menyentuh satu sudut @ isu daripada keseluruhan cabang-cabang ilmu berumahtangga. Saya perlu mencari buku-buku yang di dalamnya terangkum secara menyeluruh definisi ‘perkahwinan’ sebagaimana yang dikehendaki Allah; bermula seawal fasa pra-perkahwinan, urusan pernikahan, hinggalah kepada kehidupan setelah berumahtangga.

Terdapat beberapa buku berkaitan perkahwinan yang telah saya jumpa dan baca, baik yang saya cari sendiri ataupun yang disarankan oleh rakan / ustaz. Namun di sini cukuplah untuk saya ‘iklankan’ @ kongsikan 3 buku yang menduduki ‘carta teratas’ dalam senarai pilihan buku-buku ‘kegemaran’ saya. Di dalamnya terkandung ilmu, panduan dan pengajaran yang sangat ilmiah, menarik dan bermanfaat. Disarankan kepada kalian untuk sama-sama berkongsi kebaikan daripadanya, lebih-lebih lagi bagi mereka yang sudahpun mula menjejakkan kaki ke dalam fasa-fasa awal pra-pernikahan.

Selamat mencari dan membaca!

.

**********

.

PANDUAN LENGKAP NIKAH DARI ‘A’ SAMPAI ‘Z’

Judul asal:
Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa

Penulis:
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq

Resensi:
“Ketahuilah, kebahagiaan yang hakiki hanya dapat diraih dengan ketakwaan kepada Allah SWT, dan hanya dapat diwujudkan dengan mengikuti petunjuk Allah SWT dan petunjuk Rasulullah SAW.
Buku dihadapan pembaca ini merupakan buku yang sangat berharga, dan membimbing kita sekalian menuju kebahagiaan rumahtangga yang hakiki. Di dalamnya dijelaskan segala hal yang dapat menghantarkan kepada tujuan tersebut, mulai dari cara memilih calon istri maupun suami, meminang yang islami, syarat pernikahan, walimah (pesta) yang islami, hak-hak suami maupun istri, akhlak dan etika menggauli istri, nasihat-nasihat kepada kedua mempelai dan contoh-contoh keteladanan orang-orang shalih baik pria maupun wanita di dalam mengarungi bahtera rumahtangga.”

(dipetik dari http://toko-muslim.com/buku-panduan-lengkap-nikah-dari-a-sampai-z/)

.

DI JALAN DAKWAH AKU MENIKAH

Penulis:
Ustaz Cahyadi Takariawan

Resensi:
“Buku Ustadz Cahyadi Takariawan yang saya kira paling menarik berkaitan dengan cinta, malah seakan-akan buku AKU TERIMA NIKAHNYA versi Indonesia, ialah buku DI JALAN DAKWAH AKU MENIKAH.
Buku setebal 223 mukasurat ini sangat kaya dengan saranan, pesanan dan panduan berkaitan cinta dan perkahwinan, khususnya di kalangan aktivis dakwah. Bahasanya ringan dan santai, banyak diselang-selikan dengan cerita untuk menyuntik unsur realiti di sisi teori dan ringkasnya, saya jatuh hati dengan keunikan buku ini.
Terima kasih kepada rakan IMAN di Bandung yang telah menghadiahkan saya buku ini.”
(diulas oleh Ustaz Hasrizal di blognya http://saifulislam.com/?p=2122)

.

ADAB AZ-ZIFAF: PANDUAN PERNIKAHAN CARA NABI

Judul asal:
Adab Az-Zifaf Fi As-Sunnah Al-Muthahharah

Penulis:
Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani

Resensi:
“Tulisan dalam kitab ini merupakan sebagian dari petunjuk-petunjuk Islam tadi yang didasarkan pada hadits-hadits shahih yang berasal dari pengajar manusia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengupas seluk-beluk perkawinan.
Dalam permasalahan ini banyak kaum muslimin yang tidak mengindahkan lagi aturan dan petunjuk Islam. Ada yang menyimpang dari Islam laksana orang-orang pada zaman jahiliyah dulu yang disimbolkan dengan kebebasan dalam berpakaian mewah dan berlebihan. Ada juga yang menyimpang ala zaman jahiliyah modern saat masing-masing orang berlomba untuk masuk neraka, yaitu dengan mempersiapkan dana perkawinan yang berlebih-lebihan di luar batas kemampuannya.
Mereka menyimpang dari aturan Islam dalam melaksanakan salah satu amalan Islam yang tata cara sebenarnya telah diatur oleh Islam. Membahas tuntas hadits-hadits yang berkaitan dengan kehidupan suami-istri bagaimana mereka harus mengarungi bahtera keluarga sehingga menjadi keluarga yang islami. Tentu untuk mencapai keluarga yang benar-benar islami diperlukan pelaksanaan secara bertahap, istiqamah, dan berkesinambungan.
Semoga dengan hadirnya buku ini dapat menjadi salah satu upaya memperbaiki masyarakat melalui sendi yang paling dasarnya yaitu keluarga.”

(dipetik dari http://toko-muslim.com/buku-adab-az-zifaf-panduan-pernikahan-cara-nabi/)

.

**********

.

**Firdaus: Saya juga ingin mengingatkan diri saya bahawa persiapan ilmu tidak akan terhenti setakat detik termeterainya lafaz ijab dan qabul. Pengajaran sebenar adalah diperoleh melalui pengalaman mengharungi alam perkahwinan bersama pasangan hidup kelak. Namun kita juga perlu sedar, bahawa tanpa ‘peta’ di genggaman, kita pasti akan sesat. Ilmu bertujuan memandu kita agar perjalanan hidup berumahtangga nanti terarah ke arah-Nya, insyaAllah.

h1

Permudahkanlah

December 28, 2009

.
“Permudahkanlah dan jangan persulitkan.
Gembirakanlah dan jangan menakutkan.”

(Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)

.

Permudahkan.

Jangan persulitkan.

Islam itu mudah. Segala syariat yang terkandung di dalamnya adalah mudah. Segala urusan kehidupan yang diatur Islam adalah mudah. Segala perkara halal yang ditetapkan oleh Islam adalah mudah.

Kita yang menyebabkan ia kelihatan sulit. Pengaruh adat, sistem, sikap dan mentaliti yang menyebabkan ia kelihatan rumit.

Maka larilah manusia daripada melakukan perkara halal yang kelihatan begitu susah, kepada perkara haram yang kelihatan begitu mudah. Masyarakat mula melihat perkara yang dimurkai Tuhan sebagai alternatif. Umat mula memandang perkara yang ditegah syarak sebagai solusi.

Oleh itu permudahkanlah!

.

** Firdaus: Tidak bermaksud menyeru kepada sikap ‘ambil mudah’. Cuma, bagi perkara-perkara yang memang asalnya mudah di dalam Islam, jangan pula kita jadikan ia rumit dan susah.